Monday, November 25, 2013

Etika Penggunaan Mesin Pencari di Internet Dalam Membuat Tugas Penulisan




Pengertian Mesin pencari atau search engine adalah suatu program komputer yang dirancang untuk membantu, mempermudah, mempercepat seseorang menemukan informasi atau data yang diinginkan. Mesin pencari (search engine) semacam “penunjuk jalan” untuk mencari sesuatu yang dibutuhkan.
Mesin pencari akan berfungsi setelah mempunyai kriteria database yang dibuat sebelumnya dan akan menampilkan hasil sesuai dengan kriteria mesin pencari. Cara kerja mesin pencari adalah dengan memasukkan kata kunci pada kolom pencarian kemudian mesin pencari akan bekerja melakukan pencarian di database serta menampilkan hasil akurat yang memuat kata kunci tersebut dari database yang ada. Jika pada database tidak ada kecocokan dengan kata kunci maka hasil tidak ditampilkan. 


Jika ditinjau dari lingkar dunia edukasi, kehadiran internet merupakan wahana yang terbaik untuk memudahkan para pelajar memperoleh akses data serta informasi yang tak terbatas seputar materi yang diajarkan di lingkup sekolah ataupun universitas. Namun, perlu diakui, akses yang tanpa batas tersebut kemudian dalam kondisi tertentu bisa berefek negatif. Terlebih jika tidak dibarengi pengawasan yang memadai.

Di dalam pasal 3 UU ITE disebutkan bahwa Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektonik dilaksanakan berdasarkan asas kepastian hukum, manfaat, kehati-hatian, iktikad baik dan kebebasan memilih teknologi atau netral teknologi. Pasal 4 juga menyebutkan bahwa Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Elektronik dilaksanakan dengan tujuan untuk:
        a. mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia;
        b. mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan   kesejahteraan masyarakat;
        c. meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;
        d. membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk memajukan pemikiran dan   kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan   bertanggung jawab; dan
        e. memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.

Sumber : www.postel.go.id/info_view_c_26_p_2024.htm
                  www.gunadarma.ac.id

Thursday, November 7, 2013

Netetique dalam berkomunikasi di era Sosial Media

Etika atau Etiket?
Publik seringkali menganggap dua hal itu sama. Bahkan media pun, kadangkala tak memahami perbedaan kedua hal itu. Beberapa kali saya membaca judul Etika bermedia sosial di koran, majalah, mendengar di radio dan menonton di acara TV.
Etika itu cabang filfasat tentang baik dan buruk. Saya bukan ahli filsafat. Tapi, sederhananya, apa yang disepakati hampir semua orang mengenai baik atau buruk, itu wilayah etika. Dalam praktik sehari-hari misalnya plagiat (baik untuk skripsi-tesis, atau bahkan sekadar status di Facebook atau twit) itu hampir semua orang sepakat itu buruk. Mengambil yang bukan hak kita, lalu mengakui itu sebagai milik kita itu tidak etis.
Sebenarnya, dalam diri kita sudah ada alarm yang memperingatkan kita yang ini baik, dan yang itu buruk. Contoh, ketika menemukan foto seseorang di ruang privat, tak baik disebarluaskan tanpa seizin yang difoto. Tak baik pula disebarkan di Facebook maupun Twitter serta media sosial lain. Demikian pula foto-foto korban pemerkosaan, korban kecelakaan yang berdarah-darah, serta foto-foto porno.
Maka ketika kita berbicara etika di social media, sesungguhnya kita berbicara mengenai etika sosial, yang selama ini dipegang erat di lingkungan sosial kita di offline, untuk diterapkan di online. Hal-hal yang dianggap oleh semua orang buruk di offline, tidak usah dibawa ke online dengan alasan apapun, termasuk alasan bahwa akun-akun social media itu akun privat.
Apapun yang tidak etis di offline,  juga tidak etis kita lakukan di online, termasuk di media sosial.
Maka yang paling penting dipahami oleh pengguna media sosial itu etiket alias tatacara, atau sopan santun.
Lho buat apa etiket? Bukankah akun kita di social media itu milik kita sendiri? Suka-suka kita dong. Kita mau mengeluh, marah-marah, bete di Facebook maupun di Twitter terserah kita dong.
Kita bebas merokok di rumah kita sendiri. Tapi ketika ada tamu, yang kita tahu bukan perokok, apakah akan tetap klepas klepus merokok di depannya? Bukankah kita otomatis menahan diri tidak merokok selama ia bertamu?
Apakah ketika kita sedang makan bersama dengan orang lain kita boleh kentut atau bersendawa sembarangan?
Kehadiran orang lain, mau tak mau, membuat kita bersama-sama membuat etiket, baik yang tertulis maupun tidak.
Yang tertulis, sudah dibuat oleh Twitter sendiri, antara lain tidak boleh menggunakan gambar-gambar pornografi, baik untuk foto profile, header maupun background. Selengkapnya, baca aturan Twitter di sini.
Yang tak tertulis antara lain:
1. Twitlah kurang dari 140 karakter. Sebaiknya tak usah lebih panjang, meski bisa dibaca dengan menggunakan Twitlonger.
2. Jika hanya satu yang bertanya di Twitter untuk satu topik, cukup dijawab dengan fasilitas Reply, bukan RT. Jawaban dengan RT sebaiknya dilakukan jika yang bertanya sangat banyak, dan jawaban tersebut ditujukan untuk semua penanya.
3. Berinteraksilah dengan follower. Jangan ngomong sendiri. Twitter bukan medium satu arah. Bukan pula dua arah. Tapi multiarah.
4. Jangan menggunakan huruf besar semua nanti dikira twit marah-marah
5. Jangan menfollow orang agar kita difolback, lalu setelah itu kita unfollow mereka.
6. Tak perlu memaksa meminta folback karena Twitter bukan jejaring pertemanan seperti Facebook
7. Banyak-banyaklah berbagi ke follower: berbagi ilmu, berbagi keceriaan, berbagi kesempatan.
Daftar etiket bisa diperpanjang sesuai dengan perkembangan perilaku interksi di masing-masing media sosial ini.
Twitter tergolong encer dalam hal etiket ini karena basisnya bukan pertemanan seperti di Facebook. Twitter itu jejaring informasi. Kita tak perlu izin untuk menfollow seseorang di Twitter, kecuali akunnya digembok. Akun bergembok itu memperlakukan Twitter seperti Facebook.
Kita menfollow bukan karena orangnya tapi karena informasinya. Tak perlu kenal orangnya, bahkan jika akun itu dengan nama alias (pesudo, orang sering sakah sebut dengan anonim), asal infonya kita anggap menarik, maka kita follow. Jika kita di kemudian hari tidak suka, tinggal di-unfollow. Mudah.
Saking encernya hubungan di Twitter, inetarkasi di jejaring informasi ini lebih memberikan keleluasaan penggunanya dibanding Facebook, sehingga melahirkan inovasi-inovasi baru seperti KulTwit dan TwitWar yang kurang nyaman jika dilakukan di jejaring pertemanan seperti Facebook.
Maka, pada prinsipnya, di Twitter kita boleh melakukan apa saja, asal tidak melanggar aturan Twitter. Ingat, akun kita itu hanya pinjaman dari Twitter. Sebagai pemilik asli, Twitter bisa menutup akun kita jika kita melanggar aturannya.
Boleh mengeluh dan maki-maki di Twitter? Boleh.
Boleh pamer di Twitter? Boleh saja.
Boleh jualan di Twitter? Tentu saja boleh.
Boleh berantem alias twitwar di Twitter? Boleh. Siapa yang melarang?
Boleh pacaran di Twitter? Halah, boleh…boleeeeeeh.
Boleh me-RT pujian juga? Boleeeeeeeeeeeeh! *awas kalau tanya lagi*
Semua boleh asal tidak melanggar aturan yang sudah ditetapkan Twitter.
Nah, dengan kekebasan seperti itu, follower punya kebebasan menekan tombol mute, unfollow, blok sampai spam.
Jika twit orang yang kita follow sering nyebelin, gampang solusinya: mute atau unfollow
Jika sudah di-unfollow masih mention dengan twit-twit nyebelin? gampang: blok saja.
Jika twit isinya fitnah melulu, adu domba, atau pornografi? Gampang: report spam.
Nah, jika kita tidak ingin kena tombol-tombol ajaib itu, ya balik ke atas lagi: perhatikan etiket.

Tuesday, April 23, 2013


Laporan Kegiatan Seminar APU: NEXT GENERATION OF PROCESSING POWER

Laporan Kegiatan Seminar APU : Next Generation Of Processing Power, Universitas Gunadarma

Berikut adalah susunan acara Seminar APU : Next Generation Of Processing Power yang dilaksanakan pada tanggal 3 April 2013, Ruang D342,  Jam: 08.00 - 17.00 wib.

  • 08.00 - 09.00 Registrasi Peserta
Pada pukul tersebut, perserta seminar apu : next generation of roccessing power melakukan pendaftaran ulang, absen dan pembagian snack.

  • 09.00 - 10.30 Dimulai nya Seminar
Pembicara : Bpk. Anton Pardede (Pemimpin redaksi PC Media & Founder PCMAV)
Tema : Bagaimana Menjadikan diri agar percaya diri dalam menghadapi kehidupan sehari-hari dan juga untuk melakukan pekerjaan.

  • 10.30 - 10.45  Coffe Break.
Bersantai sejenak minum kopi 

  • 10.45 - 12.00 Demo unit AMD apu.
Pembicara : Bpk.Victor Herlianto (Sales Development Manager AMD indonesia)
setelah sesi coffe break peserta mendapatkan presentasi demo unit amd apu, bagaimana cara mengoptimalkan, kecepatan dalam berkerja dll. Pada sesi ini pembicara menggunakan projector.

  • 12.00 - 13.00 Makan Siang.
Para peserta, Panitia, pembicara dipersilahkan untuk makan siang.

  • 13.00 - 14.00  Training singkat.
Para peserta ditraining menggunakan aplikasi pada komputer untuk mengoptimalisasi teknologi apu pada prosesor generasi terbaru amd.

  • 14.00 - 16.30 Game Challenge.
Peserta yang sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti game challenge maju kedepan untuk mengikuti pertandinganya yaitu bermain game dirt3. Pemenangnya adalah siapa yang mendapatkan waktu tercepat dalam 1 lap, dan akan mendapatkan hadiah berupa processor amd apu a10 5800k.

  • 16.30 - 17.00 Penutupan : Pembagian Sertifikat dan Bingkisan
Sampailah pada sesi terakhir yaitu penutupan, setelah pembagian hadiah untuk pemenang game challenge dan berbagai hadiah yang diundi, seminar selesai dengan para peserta keluar ruangan sembari mengambil sertifikat dan bingkisan.

Sekian Laporan Kegiatan Seminar APU : Next Generation Of Processing Power Tanggal 3 April 2013 yang bertempat di ruang D342 Kampus D Margonda Universitas Gunadarma.

Friday, April 5, 2013

Iktisar Buku The Telephone Gambit: Chasing Alexander Graham Bell's Secret


         Kisah tentang penemuan telepon dan pengaruhnya terhadap kehidupan kita. Ketika Alexander Graham Bell menemukan telepon dalam tahun 1876, ia memulai sebuah terobosan baru dalam sistem komunikasi manusia, yang perkembangannya masih terus berlanjut sampai sekarang. Sebelum penemuan Bell itu, cara paling tepat untuk menyampaikan sebuah berita kepada seseorang di tempat yang jauh adalah dengan mengetukkan sandi Morse melalui kawat telegraf. Akan tetapi, kendatipun sudah saling terhubung dengan seutas kawat, orang belum dapat mengirimkan suaranya melalui kawat itu. Bahkan sebelum telegraf, yang relatif masih merupakan barang baru, ditemukan, pesan-pesan penting harus di sampaikan oleh kurir berkuda, menggunakan sinyal asap, menggunakan burung merpati, atau menggunakan kapal bila harus memintas laut.
         Tidak sedikit orang telah berusaha menemukan cara untuk menyempurnakan telegraf dalam tahun 1870an. Akan tetapi, Bell secara kebetulan berada dalam posisi yang unik untuk membuat terobosan. Sebagai seorang pemuda yang telah membaktikan dirinya untuk membantu para tuna rungu, ia juga mempunyai kegemaran di bidang teknik dan turut berusaha menyempurnakan alat telegraf. Dalam salah satu eksperimennya, tiba-tiba ia mendengar adanya getaran suara pada seutas kawat pendek yang direntangkan dari sebuah kamar ke kamar lain. Kalau saja ada orang lain yang mendengar suara berisik yang lemah itu,hampir dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan peduli. Bell, dengan pengetahuannya yang rinci tentang bagaimana telinga manusia memperkuat getaran semacam itu, langsung melihat bahwa pengiriman suara manusia melalui seutas kawat bukan sesuatu yang mustahil. Telepon segera lahir, hanya dalam satu dasawarsa, telepon telah menyebar dan memintas daratan Amerika, dan tak lama kemudian ke seluruh dunia.

gunadarma.ac.id

Sunday, November 18, 2012

Meresensi Novel Pengarang Dewi Lestari

Cover :
  • JUDUL BUKU : Madre
  • OLEH : Ian Frisky
  • JUDUL : Madre
  • PENGARANG : Dewi Lestari
  • TAHUN TERBIT: 2011
  • CETAKAN Ke : 1

Isi :
  • Cerita Singkat Novel :
            Novel ini menyuguhkan berbagai tema diantaranya
1. Perjuangan sebuah toko roti kuno
2. Dialog antara ibu dan janin nya
3. Dilema antara cinta dan persahabatan
4. Reikarnasi dan kemerdekaan sejati
  • Kelebihan novel :
Sampul pada novel ini unik karena bergambarkan bangunan masa lalu yang cocok dengan isi dari novel, pemilihan warna kelabu pada novel juga mendung pada isi dari novel karya Dewi Lestari, ditambah lagi dengan font tulisan yang digunakan pada sampul sebagai judul novel begitu mengesankan akan nuansa etnik masa lalu
  • Kekurangan novel :
Penjualan novel ini tidak merata di seluruh toko-toko buku, novel ini hanya bisa dijumpai di toko buku besar

Tuesday, October 9, 2012

Beberapa Kata Yang Berasal Dari Lingkungan

-Toke : Disebut seperti itu karena berbunyi Tokee..
-Cicak : Disebut seperti itu karena berbunyi ckckck..
-Jangkrik : Disebut seperti itu karena berbunyi Krik krik..
-Kodok : Disebut seperti itu karena berbunyi mirip kodok..
-Ngorok :  Disebut seperti itu karena ketika tidur bunyinya ngrook ngrook..
-Dangdut : Disebut seperti itu karena alunan lagunya terdengar dang dan dut..
-Meong :  Disebut seperti itu karena kucing berbunyi meong..
-Mbek :  Disebut seperti itu karena kambing berbunyi mbek.. 
-Gukguk:  Disebut seperti itu karena anjing berbunyi gukguk.. 

gunadarma.ac.id

Perkembangan Bahasa Indonesia Pada Masa Kini


Pembinasaan Bahasa Indonesia di Dalam Negeri

Bahasa Alay



“Terus, gue mesti bilang WOW, gitu?”
“Ciyus? Enelan? Miapah?”
“L!k3 st4tz aqwh eaapz”
“Mupph1n 4khuw”



Kalimat-kalimat diatas adalah contoh Pembinasaan Bahasa Indonesia di dalam negeri dari sisi EYD maupun norma, etika dan adat berbicara timur yang terkenal dengan kesopanannya.  Kalimat-kalimat diatas lebih dikenal di Indonesia sebagaiBahasa Alay, atau di dunia IT dua kalimat terakhir disebut Bahasa Hacker. Tidak ada yang tahu persis bagaimana asal mula dari merebaknya bahasa alay ini.

Ada yang menyebut dimulai dari bahasa pergaulan para banci salon. Ada lagi yang menyebut karena pengaruh layanan pesan singkat handphone (SMS) yang memaksa penggunanya untuk menyingkat kata sesingkat mungkin apabila ingin menulis pesan yang agak panjang. Pandangan lain menyatakan bahwa faktor psikologis remaja zaman sekarang dan didukung oleh perkembangan teknologi turut mendukung berkembangnya penggunaan bahasa ini.

Mungkin pada awalnya bahasa alay hanya ada pada tata cara penulisan di SMS. Penulisan “yang” disingkat menjadi “yg”, “seseorang” menjadi “ssorg”, “tanggung jawab” menjadi “tgg jwb”, dan banyak lagi. Dari awalnya yang menggunakan huruf-huruf yang “normal” dan masih dalam batas “kewajaran”, mulailah masuk “bahasa hacker” yang menggabungkan antara alphabet dengan angka dan simbol-simbol.

Penggunaan bahasa hacker dimaksudkan untuk keamanan password akun seperti email agar tidak mudah dibobol oleh hacker karena password dengan kombinasi huruf-angka-simbol dianggap sebagai password yang paling sulit (hampir mustahil) untuk dibobol. Beberapa saran dari praktisi IT menyebutkan bila ingin password yang aman dan mudah diingat maka gunakanlah angka atau simbol sebagai pengganti alphabet.

Contohnya, bila ingin password “Jakarta Raya” menjadi password yang tangguh, maka penulisannya bisa seperti “J4k4rt4 R4y4” atau kombinasi model lainnya.

Namun, dalam perkembangannya password “Jakarta Raya” seperti mulai di-gemuk-kan menjadi, contoh: “Jh4kart@ Rhayh@4”. Atau dengan model lainnya (maaf saya tidak terlalu ahli dalam membuat penulisan bahasa alay tingkat akut).

Nah, dari perkembangan seperti ini bahasa alay mulai dikenal dengan ciri-ciri tulisannya yang menggunakan simbol, angka (seperti plat nomor) dan ejaan yang berubah dan di-gemuk-kan. Contoh paling ekstrim saya menemukan nama akun facebook seseorang yang ditulis seperti berikut:




Aponkk Ciiguardiannaangell Mencaricciintassejati
Afief Hatecoffeebutlikecoffeetheory
Bebyameliacayankridhomulyadie Dengansepenuhhati Kanselalucayankridho
- Sherllyghibitiyahaliyah Lorenciiabenciitmendmunapik SyngmamhMahessadrofwanted
- Abiiee Chayank Zack Chellalu Clamhannya
- ZrieeYgsllcayankcienta AA’pholepel




Seperti itu lah, belum ditambahkan dengan angka dan simbol saja sudah bikin mata dan otak pusing. Entah dengan maksud seperti apa para alay-ers -sebutan untuk orang alay- sengaja memilih kata-kata seperti ini. Salah satu pengguna bahasa ini pernah saya temui di jalan ketika saya sedang menunggu kereta saat pulang kuliah. Setelah berbincang sejenak, saya iseng bertanya mengapa dia yang masih SMP itu sengaja menggunakan bahasa alay. Jawabannya klise, sederhana, namun membuat saya menggeleng-gelengkan kepala: “Biar gue keren ama eksis, bang”. Waah.

Disamping bahasa alay dalam bentuk tulisan, pelencengan bahasa Indonesia dalam bentuk “lisan” juga sudah marak. Tetap dengan label “bahasa alay”, hanya saja beda penerapannya.



Saya ambil contoh kalimat yang sedang trend, yaitu:

“Ciyus? Enelan? Miapah?” (Serius? Beneran? Demi apa?) dan

“Trus, gue mesti koprol sambil bilang ‘wow’, gitu?”



Kalimat pertama entah muncul dari mana asalnya dan siapa yang memulainya. Yang saya tangkap dari kalimat yang bertanya tiga kali itu bernada seperti anak balita yang baru belajar berbicara. Kalimat diatas mulai terkenal lewat media sosial seperti twitter dan facebook dan merambah ke ranah pergaulan lisan sehari-hari di kalangan remaja. Kesan yang ditimbulkan dari penggunaan kalimat diatas, menurut saya seperti orang yang tidak percaya tapi dengan ekspresi yang “merendahkan”.

Bayangkan, bila anda misalkan berbincang dengan figur terkenal. Seorang produser misalnya. Dan anda berbicara dengan teman anda bahwa anda sesaat yang lalu anda berbincang dengan seorang produser terkenal. Lalu rekan anda mengatakan:“Ciyus? Enelan? Miapah?”, tentu dengan mimik antara tidak percaya, iri dan merendahkan karena hampir semua yang mengatakan ini menggunakan mimik dan nada bicara yang sama. Bagaimana perasaan anda? Pasti jengkel, kecuali anda kurang normal.

Lebih parah lagi bila teman anda berkata “Trus, gue mesti koprol sambil bilang ‘wow’, gitu?”. Secara langsung kalimat ini terang-terangan menunjukkan rasa tidak menghargai dan menghina bila anda menganggap pembicaraan anda serius dan bukan suatu candaan sama sekali.

Saya masih teringat ketika saya mendapat nilai bagus dalam ulangan sewaktu Sekolah Dasar beberapa tahun yang lalu dan saya memberitahukannya kepada teman-teman saya. Mereka mengucapkan selamat dan berbahagia bersama saya, dengan beberapa diantaranya menantang untuk berkompetisi di ulangan yang berikutnya.

Namun lihat pada masa sekarang, begitu ada yang mengumumkan kalau dia mendapat nilai bagus saat ulangan, balasannya antara dua kalimat alay diatas. Alhasil secara psikologis, ia merasa usahanya sama-sekali tidak dihargai dan sia-sia. Di sisi yang mengatakan, secara perlahan ia menumbuhkan sifat iri dan kurang menghargai karena pengucapan kalimat-kalimat tersebut hampir dipastikan dengan suara ketus dan ekspresi dan gaya bahasa merendahkan.

Inilah bahaya negara Indonesia hanya dari segi bahasa saja. Memang banyak orang yang membenci penggunaan bahasa ini. Tapi kalau hanya sekadar dibenci, dicaci dan semacamnya hanya akan menyuburkan “pembinasaan bahasa” ini. Perlu ada sebuah gerakan nyata untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini sebelum menjadi sebuah “budaya” yang memalukan.

Pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di institusi pendidikan mesti digalakkan dan dikembangkan bukan hanya dari sisi teori, namun dari sisi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi mengingat bahasa alay sudah mulai menggabungkan dengan bahasa asing, terutama bahasa inggris karena trend bahasa Inggris semakin marak.


Memudarnya Kemauan Berbahasa Indonesia

Sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan asing yang menerapkan standar bahasa Inggris lisan dan tulisan. Dibuktikan dengan perolehan nilai TOEFL dari lembaga-lembaga resmi. Entah kenapa saya melihat ini hanya penjajahan modern. Bagaimana bisa perusahaan asing yang membuka cabangnya di Indonesia mengharuskan karyawannya yang orang Indonesia harus bisa bahasa mereka. Bila diumpamakan, anda menerima tamu di rumah anda. Namun anda harus mengikuti kebiasaan tamu anda itu. Sungguh ironis dan lucu Indonesia ini.

Apalagi dengan bermunculannya Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan rintisannya (RSBI). Sekolah-sekolah itu menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Saya merasakan sendiri karena sewaktu saya sekolah, SMK saya adalah RSBI (sekarang sudah SBI). Penekanan berbahasa Inggris sungguh ditekankan, sedangkan bahasa Indonesia –menurut pandangan saya- dianggap hanya sebagai hiasan pelengkap saja sebagai mata pelajaran Ujian Nasional. Bahasa Indonesia juga seperti di-anak-tiri-kan, dengan perlakuan yang berat sebelah. Contoh, lebih banyak sekolah dengan lab bahasa inggris dibandingkan lab bahasa Indonesia.

Proyeksi sekolah RSBI dan SBI ini adalah mencetak siswa yang kompeten di lapangan kerja. Oke, memang itu bagus. Tapi di sisi bahasa Indonesia, kurikulum pengajarannya seolah menghancurkan bahasa Indonesia dengan meng-anak-tiri-kannya dengan bahasa Inggris. SBI adalah “Sekolah Bertaraf Internasional”, bukan “Sekolah Internasional”. Di negara Jepang sana, universitas sekelas Universitas Tokyo (Tokyo University/Todai) saja meskipun berkelas internasional tetap menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa inggris “hanya” digunakan disaat tertentu saja, seperti di mata kuliah bahasa Inggris. Sisanya tetap menggunakan bahasa Jepang.



Dimanakah jiwa nasionalisme kita yang sesungguhnya saat ini?

Apakah nasionalisme kita baru tergerak bila kita terang-terangan dijatuhkan oleh orang asing?

Sadarkah kalau sudah sering jiwa nasionalisme kita digadai demi kepentingan imperialis asing?

Banggakah kita bila nilai-nilai dan kebudayaan Indonesia tergerus westernisme?

Mengapa kita selalu latah dan bangga dengan budaya luar, sedangkan budaya sendiri dibiarkan begitu saja padahal bangsa asing begitu menilai tinggi?

Kemanakah semangat Sumpah Pemuda 1928?